-->

Makna Filosofis Dongeng Mundinglaya & Layang Salaka Domas

Makna Filosofis Dongeng Mundinglaya Layang Salaka Domas

Dongeng Mundinglaya Dikusumah, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran dan layang salaka domas sangat menarik disuguhkan kepada generasi bangsa Indonesia.

Kemarin, saya nonton sinetron FTV yang dibintangi Afdhal Yusman, tayang di RTV, diproduksi PT Genta Buana Paramita. Dulu sering tayang di Indosiar.

Sinetron FTV itu menceritakan kisah seorang pemuda bernama Mundinglaya Dikusumah, putra bungsu Prabu Siliwangi, adik Guru Gantangan. Dari banyak adegan, saya tertarik pada kisah utamanya tentang layang salaka domas.

Suatu ketika, Kerajaan Pajajaran didera krisis kepemimpinan, karena Guru Gantangan punya watak kurang terpuji dan tidak layak menjadi pemimpin bangsa. Sang Permaisuri bermimpi bahwa Pajajaran akan tentram, damai dan sejahtera jika bisa mengambil layang salaka domas di langit tingkat tujuh.

Sang Prabu pun mengumumkannya. Namun, yang menyatakan kesanggupannya adalah Mundinglaya. Yang lain ketakutan karena menjadi suatu kemustahilan.

Pengembaraan berburu layang salaka domas pun dimulai. Mundinglaya bertemu dengan raksasa mengerikan yang gemar memangsa manusia bernama Jongrang Kalapitung.

Pangeran Mundinglaya ternyata berhasil mengalahkan raksasa ganas Jongrang Kalapitung. Dari sini, saya bisa menarik arti dan makna kisah tentang raksasa.

Raksasa adalah hawa nafsu dalam setiap diri manusia. Hanya orang suci yang punya niat hati yang bersih, jujur dan tidak jahat yang berhasil mengalahkan raksasa pemakan manusia yang sebetulnya ada dalam diri sendiri.

Jongrang Kalapitung disimbolkan sebagai sifat buta atau raksasa pada manusia. Wujud dari karakter jahat, kesombongan, angkara murka, dan berbagai keburukan manusia lainnya.

Setelah berhasil mengalahkan Jongrang Kalapitung, Pangeran Mundinglaya Dikusuma kemudian melanjutkan perjalanan untuk menembus langit lapis ketujuh (sab pitu) atau jabaning langit, karena disitulah layang salaka domas berada.

Layang itu dijaga oleh guriang 7 (tujuh). Dalam film FTV, guriang 7 digambarkan sebagai makhluk gaib spiritual (seperti iblis) penjaga layang salaka domas.

Arti dan maknanya adalah tujuh lapisan yang ada dalam tubuh manusia. Orang spiritual menyebutnya sebagai cakra. Ada tujuh titik cakra dalam tubuh manusia.

Pada titik ketujuh, seseorang bisa menemukan dzat ilahiah, ketuhanan. Inilah simbol kesucian, kebersihan hati. Dengan menemukan titik ini, manusia akan bisa mengalahkan sifat-sifat buruknya.

Kenapa layang salaka domas berada di langit tingkat tujuh di mana Tuhan, Allah bersemayam? Karena layang itu merupakan simbol kemakmuran, kedamaian, kesejahteraan.

Artinya, untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan, seseorang harus bisa menemukan langit ketujuh di mana sifat-sifat kesucian dan kebersihan hati bersemayam dengan dzat ilahiah, ketuhanan.

Jadi, perjalanan Pangeran Mundinglaya Dikusumah sebetulnya proses pengembaraan diri menuju kesucian, jalan menuju Tuhan supaya menjadi manusia yang unggul dan paripurna, sehingga layak menjadi pemimpin atau raja.

Jika negara dipimpin oleh raja yang berhasil menemukan Tuhannya, maka negara itu akan makmur dan sejahtera. Pemimpin yang bisa menjalankan dengan kebajikan dan darma.

Makna filosofis dongeng Mundinglaya dan Layang Salaka Domas ini perlu disebarkan kepada para calon pemimpin bangsa supaya Indonesia mendapatkan presiden paripurna, seorang khalifah fil ardh yang hanya ada Tuhan di dalam dirinya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel